Pada Sebuah Pantai Interlude

Pada Sebuah Pantai Interlude

Dituliskan sedihnya laut,
Pada wajah gelombang.
Lumut gelisah,
Di sela-sela karang.
Ditulisnya kemarau daratan,
Pada putihnya tulang-tulang.

Kota-kota sangar,
Membakar seribu bulan
Terdengar derai ombak bercerai,
Terhampar kepantai, sorak terurai.
Mengaum deram derum lautan,
Walaupun didalam malam yang kelam.

Terombang-ambing bingung,
Kelabakan bak ikan nelayan.
Teriak melengking,
Menengahi angin suram.
Camar tak tau apa-apa,
Pelikan menjauh jijik melihatnya.
Sipenginjak baru mengingat maha pencipta,
Menyadari, Ia telah murka!

Ribuan tetes air mata,
Menyatu dengan sensasi ombak bergetar.
Berlomba-lomba mencari dararan,
Apadaya, tiada yang bisa, membuang tenaga percuma.

Disini hanya bisa tertawa,
Mel…
Lain Dari Kehilangan
Tuan beringin menari
Daunya berserakan
Nyonya beliung tlah pergi
Daun masih berantakan

Air sungai kini surut
Namun, bebatuan tetap berlumut
Kini kau terbang dan menghilang
Kini kuhadapi ribuan rintang

Berkokoknya si jantan,
Salurkan sebuah bisikan
Sampaikan ‘ia berpulang’
Adukan ‘ia tak ingin lagi berjuang’

Sakitnya, sungguh sakit tak terkalahkan
Pedihnya sungguh pedih tak terkalahkan
Cuma-cuma saja aku tuliskan pesan
Tak guna aku, hanya jadi beban

Sadarlah sadar,
Harapan sungguh kian memudar
Mari pulang,
Karena dikau telah menghilang.

-indira and-

Komentar dengan Facebook

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *