SMA yang katAnya penuh dengan kenangan dan masa indah tapi nyatAnya itu nggak berlaku di semua orang, termasuk Anya Gabrilea Putri seorang siswi yang sedang duduk di bangku SMA, ia adalah gadis malang yang menjadi korban bullying di sekolahnya. Ia tidak punya orang tua sejak bayi dan dia sekarang hAnya tinggal bersama kakaknya. Hampir setiap hari Ia berusaha mencoba bertahan dari jerat bulyying yg diselancarkan orang-orang di sekitarnya.
Kutu buku, tidak menarik, cupu, gadis lemah. Seperti itulah yang orang lain simpulkan tentang seorang gadis yang beranama Anya gabrilea putri.
Bully? mungkin kata itu tidak asing lagi di telinga Anya. Sejak pertama dia masuk sekolah, dia selalu mendapat bullyan dari teman-temannya, mulai dari teman seangkatan bahkan sampai kaka kelas.
Suasana kelas 10 unggulan terlihat sangat ramai, dimana semua aktivitas murid sibuk dengan aktivitas masing-masing. Namun, di tengah ramainya suasana, tidak ada yang menyadari jika di sudut ruangan besar itu ada satu circle yang sedang mengintimidasi gadis bertubuh gempal, berkulit hitam dengan hidung besar dan juga selalu mengenakan kacamata. Ya siapa lagi kalau buka Anya.
“Nah …, gini kan tambah cantik! Lo tau gak sih, Anya? lo itu makin gemoy setelah gue dandanin!”. Seru Sherin kegirangan setelah mencoret-coret wajah Anya menggunakan spidol permanen miliknya layaknya seorang badut. Sherin tertawa semakin kencang sembari memukul kasar kepala Anya sampai gadis itu hampir tersungkur ke lantai. Untunglah Ia bisa menjaga keseimbangannya.
Kkrrringgggg ….
Suara bel masuk baru saja berbunyi. Sherin dan teman-teman Anya menghentikan aktivitas bulying. Anya segera berlari meninggalkan kelas menuju toilet. Anya berusaha mencoba menghapus coretan-coretan yang ada di wajahnya. Namun, percuma saja noda itu tidak bisa hilang dalam waktu yg cepat. Lalu Anya memutuskan untuk memakai masker supaya coretan-coretan tadi tidak terlihat mencolok. lalu Anya kembali ke kelas.
“Maaf pak, saya terlambat masuk kelas, saya dari toilet”
“Kenapa kamu pakai masker?”
Reflek shiren memejamkan matanya untuk memberikan kode kepada Anya supaya tidak memberitahu apa yang telah terjadi.
“I …, itu pak saya lagi flu, jadi saya memutuskan untuk memakai masker supaya tidak tertular kemana-mana”jawab Anya.
“Ouh yasudahlah, sekarang kamu duduk dan kerjakan soal ulangannya. “
Kkrrringgggg ….
Bel istirahat berbunyi membuat para siswa berbondong bondong pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka. Kantin benar benar ramai dan sangat gaduh, tetapi tiba-tiba kegaduhan yang sangat mengganggu menarik perhatian semua murid yang ada di kantin.
Brukkk
” Maaf gue engga sengaja.” ucap Anya.
” Lo bilang ngga sengaja? Lo punya mata gak sih? Lo gak liat kalo tadi ada gue, hah? Lo tau berapa harga sepatu gue yang lo tumpahin pake minum murahan lo? Bahkan gaji sebulan orang tua lo ngga bakal mampu bisa gantiin sepatu gue!” ucap Sherin
“Gue bener bener ngga sengaja Sherin, gue minta maaf.” ucapnya pada Sherin
“Anya sayang, lo pikir dengan kata maaf lo bakal bikin sepatu gue bersih lagi?!” Bentak Sherin yang berteriak di akhir kalimat.
“Gue minta sekarang lo bersihin sepatu gue!” sambungnya yang tidak direspon apapun dari Anya.
“SEKARANG ANYA!!!” bentak Andrea.
Semua orang melonjak kaget mendengar bentakan Sherin, termasuk Anya yang merupakan objek bentakan Sherin. Anya segera mengambil tisu yang berada di meja makan. Tapi gerakannya terhenti saat Sherin kembali bicara.
“Pake rok lo.” ucap Anya
Naina terdiam sejenak mendengar perintah Sherin, namun pada akhirnya Anya melakukannya. Saat Anya sedang membersihkan sepatu Sherin, tiba tiba ia diguyur dengan jus mangga yang membuat rambut serta seragamnya basah.
“Ups, sorri gue ngga sengaja. ” ucap Sherin dengan nada mengejek. Setelah itu Sherin dan teman temannya pun pergi begitu saja.
Segerombolan murid yang melihat kejadian itu berlalu pergi seolah merasa senang dan puas atas kejadian itu.
Jasmine yang dari tadi diam memperhatikan adegan itu, merasa kasihan pada Anya. Saat Anya pergi meninggalkan kantin Jasmine pun mengikutinya. Jasmine juga merupakan korban bullying, sama seperti Anya.
“Eh Anya, lo mau kemana?” Tanya Jasmine yang datang dengan membawa nampan berisi makanan
“Bentar, gue mau ke toilet. ” jawab Anya tanpa melihat jasmine
Jasmine mencari dimana keberadaan Anya, dia yakin jika perempuan itu tidak akan jauh dari sini.
Anya mengedarkan pandangannya hingga kemudian pandangannya berhenti pada satu titik. Ia melihat perempuan tengah berjalan seraya menunduk. Jasmine dengan segera menghampirinya lalu menarik tangan perempuan itu ke toilet sekolah, Anya yang tiba-tiba tangannya ditarik seseorang ia melonjak kaget namun akhirnya dia menunduk pasrah jika dia akan di Bully lagi.
“Gue ngga bakal bully elo ko.” ucap Jasmine tau jika apa yang dipikirkan perempuan itu, untung saja toilet sedang dalam keadaan sepi hingga hanya ada mereka saja berdua.
“Lo bawa baju seragam dua?” tanya Jasmine berniat ingin membantu, namun Anya sepertinya salah mengartikan perkataannya karena dia malah menatap tajam ke arah Jasmine.
“Lo pikir gue gak mampu beli seragam hah?” Tanya Anya sedikit membentak membuat jasmine terkejut.
“Bu-bukan gitu maksud gue, gue cuma–“
“Gak usah sok baik deh, elo sama yang lainnya sama aja.” ucap Anya lalu pergi meninggalkan jasmine di toilet sendirian. Namun, saat Anya membuka pintu toilet seketika tubuhnya menabrak benda keras hingga wajah nya mencium marmer lantai sekolah yang berdebu.
“Aaawww …!!!” Pekik Anya kesakitan.
“Elo ngga apa-apa?” Tanyanya lagi seraya mengulurkan tangan kanannya pada Anya yang masih terduduk di lantai.
“G-gue gak papa kok, btw thanks”
“Sama-sama” Jawab Jasmine dengan senyum lebar.
“Lo mau pake rok gue nggak? kebetulan gue bawa 2?”
“E-eum …, nggak papa?”
“Iyaa, buru gih ganti, rok lu basah banget”
“Okayy”
Setelah Anya mengganti ro nya kemudian mereka berdua meninggalkan toilet menuju rooftop.
“Kenapa lo mau bantuin gue?” Tanya Anya
“Sebenarnya gue juga korban bullying sama seperti lo, gue sering ditindas sama si Sherin dan temen-temennya disini, gue sempet mau ngabisin hidup gue disini tapi gue masih punya adek gue yang saat ini butuh gue. gue benci semua orang yang ada disini, bagi gue disini ada tiga jenis manusia, si penguasa, si lemah, si acuh. gue benci sama orang yang sok berkuasa, tapi gue lebih benci kalau gue sama kayak mereka. ” Jawab jasmine dengan nada kesalnya.
Air mata jasmine tidak bisa berhenti mengalir, tanp ia sadari air mata Anya pun ikut menetes. Anya benar banar kesal, sedih, dan benci, semuanya campur-aduk.
“Kalau sikap semua manusia sama, kehidupan nggak akan semenarik ini, hahaha …, nggak bakal ada orang baik kalau ngga ada orang jahat dan begitupun sebaliknya.” ujar Anya.
Jasmine terdiam mendengarnya. Banyak orang yang termasuk dirinya yang sering mengatakan kehidupan ini tidak adil. Sekarang jasmine berpikir, konsep tidak adil itu semacam apa?
“Kehidupan itu bukannya ngga adil, tapi kehidupan itu harus seimbang. ada yang kaya dan ada yang miskin, ada yang baik dan ada yang jahat. Semuanya harus seperti itu, coba lo bayangin kalau kehidupan manusia sama persis?” ucap Anya
“Iya sih, gue cuma kecewa aja. kecewa ama diri gue sendiri. “
“Nggak usah nyalahin diri lo sendiri. “
“Btw, lo mau nggak bantuin gue buat numpas kejahatannya Sherin? Supaya dia nggak ganggu kita lagi”pinta jasmine kepada Anya
“E-emm emang lo punya bukti-buktinya?”
“Shuttt …, akhir-akhir ini gue udah ngumpulin bukti-buktinya, mulai dari bentuk foto bahkan sampai video, gue sering masang kamera kecil di tempat tempat tertentu. Nah sekarang gue juga mau minta bantuan lo untuk memperkuat bukti-bukti tadi, secara kan lo paling sering kan diganggu sama si Sherin, jadi lo bisa critain semuanya nanti.” ujar jasmine dengan nada lantangnya.
“Bagus deh, gue siap bantuin lo”
“Nahh good, sekarang kita teman kan? Hahah”
“We are friends, okey”
Setelah mengumpulkan tekad dan keberanian akhirnya mereka memutuskan untuk melaporkan kasus ini ke BK
“ADA MURID-MURID KALIAN YANG DIBULLY” Teriak jasmine.
Semua guru saling pandang satu sama lain. mereka terkejut dengan suara teriakan jasmine.
“JASMINE!” Teriak bu ela.
“Apa begitu cara kamu bicara pada guru, hah?!”
Air mata jasmine langsung terjatuh. Entah kenapa tapi hatinya sangat sakit. Bukan reaksi macam itu yang ingin jasmine inginkan.
Jasmine menyeka air matanya.” apa begini cara kalian menangani murid?”
“Jasmine, apa maksud kamu, hah? Tidak ada yang pernah di-bully di sekolah, dan kalau pun ada kami pasti bakal mengetahui dan menanganinya.”
Jasmine tidak bisa berkata kata lagi saat ini. kini jasmine sadar, para guru juga terpengaruh oleh orang tua murid. Jasmine mendekati bu Ella dengan tatapan tajam.
“Ibu liat ini?” Dia menyodorkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah video yang menampilkan tindakan kekerasan di sekolah ini.
“J-jasmine. . . kamu korban bullying? kenapa kamu nggak laporin masalahi ini dari dulu ke saya?”
“Apakah ibu akan percaya jika saya tidak menyertakan dengan bukti-bukti tersebut?”
“Oh ia bu, tidak hanya saya yang jadi korban bullying di sekolah ini, Anya Gabriliea Putri juga menjadi korban bullying terparah di sekolah ini”
“Siapa yang membully kalian?”
“Sherin Oktaviani, seorang anak dari pemilik sekolah ini”
“Baik akan saya tindak lanjuti masalah ini.”
“Baik, bu terima kasih”
Tidak lama kemudian orang tua dari Sherin Oktaviani dipanggil untuk datang ke sekolah menemui kepala sekolah di Ruang Kepsek. Di ruangan itu sudah ada Jasmine, Anya dan Sherin.
“Ada apa ini pak?” Tanya ayah Sherin dengan bingung.
“Baik pak, jadi begini kami mendapatkan laporan bahwa anak bapak yang bernama Sherin Oktaviani telah melakuakan tindakan kekerasan terhadap Jasmine dan Anya, dan kami dari pihak sekolah memutuskan untuk mengeluarkan Sherin dari sekolah ini”
“Apa benar itu Sherin?”
“I-iya. . . yahh” Jawab Sherin dengan nada sedihnya.
“Ayahh. . kecewa sama kamu”
“Maaf. . . yah” ucap Anya lirih
“Jasmine, Anya maafin aku ya aku nyesel udah memperlakukan kalian dengan buruk, sebagai tanda maaf aku, aku akan pergi dari sekolah ini dan aku janji ngga akan ngulangin hal yang sama, baik-baik kalian disini.”
“Iya …, kita udah maafin kok. Kamu baik-baik ya di sekolah baru kamu.”
Akhirnya Sherin pun memutuskan untuk meninggalkan sekolah itu, dan dia berjanji akan berusaha menjadi lebih baik dari sebelumnya. jasmine dan Anya sangat sedih karena Sherin harus dikeluarkan dari sekolah ini, tapi disisi lain mereka juga senang karena Sherin mau berubah menjadi lebih baij dan tidak akan melakukan perundungan (bulyying) lagi.

Komentar dengan Facebook